Skema piramida pada semua bisnis… Salahkah MLM?

Skema PiramidaArtikel ini adalah salah satu pembahasan bab pertama dari E-book saya, yang sengaja saya share disini untuk khusus membahas mengenai pyramid scheme atau skema piramida.

Well, bisnis MLM itu ngga mudah, saya tahu karena saya mengalaminya.

Dulu ada orang yang pernah menawarkan bisnis MLM pada saya, dan cara menawarkannya-pun salah banget menurut saya.

Dia memberikan iming-iming bahwa bisnis ini mudah.

Lalu jika ikut bisnis ini, maka saya bakal cepat kaya, tinggal ongkang-ongkang kaki, uang terus mengalir. Well, Itu semua omong kosong!

Tapi semua itu bisa terjadi loh.. Namun perlu proses.

Namanya bisnis, ya bisnis, perlu proses dan dedikasi untuk membangunnya hingga berhasil. Catet! ?

Oh, ya saya sendiri seorang introvert.

Saya merasakan begitu sulitnya bagi saya untuk terus berinteraksi dengan orang lain, harus telpon sana sini untuk mengajak orang bergabung, ditolak sana sini, dihindari oleh teman, bahkan keluarga. Hiks.. ?

Saya juga mengalami bagaimana bingungnya kehabisan orang lagi untuk di-prospek, karena semua orang sudah saya hubungi dan sebagian besar dari mereka menolak.

Oleh karena itu mau ngga mau saya harus mencari orang-orang baru untuk saya prospek nanti.

Asliii capek banget.. Capek fisik dan mental!

Dan lagi, sekarang ini banyak banget orang yang memandang negatif bisnis MLM, jadi bakal semakin sulit untuk meyakinkan orang lain untuk mulai masuk di bisnis ini.

Yang saya tahu sih kebanyakan orang ngga mau join di bisnis ini karena mereka seperti merasa dijebak. Hmm..

Menurut saya MLM dinilai negatif karena ulah sebagian membernya yang memiliki mentalitas yang salah, dan menggunakan cara yang salah untuk membangun bisnis ini.

Mereka cenderung membesar-besarkan sesuatu, memberikan janji berlebihan ketika mengajak orang bergabung atau buruknya lagi, bahkan menipu.

Selain membernya, beberapa image negatif juga disebabkan karena beberapa perusahaan MLM yang sengaja bermain uang, atau istilah kerennya “money game”.

MLM juga dinilai buruk karena bisnisnya yang memiliki skema piramida, yang dinilai hanya menguntungkan orang yang bergabung terlebih dahulu, dan merugikan orang yang gabung terakhir.

Tapi menurut saya itu semua ngga 100% bener. Semuanya tergantung bagaimana model bisnis di dalamnya, bagaimana sistem kompensasinya, dan lain sebagainya.

Di artikel ini saya akan membahas seperti apa skema piramida itu dan apakah itu salah atau tidak. Yuk simak!

Skema piramida

Masalah pyramid scheme atau skema piramida nih, pada dasarnya semua bisnis MLM memiliki skema berbentuk piramida. Ingat ya! Berbentuk! Jadi bentuknya saja yang piramida.

Namun aturan di dalamnya-lah yang menentukan apakah skema piramida yang digunakan legal atau ilegal.

Cara membedakan skema piramida legal dan ilegal

Cara yang paling gampang untuk menentukan apakah perusahaan MLM-mu memiliki skema piramida legal atau ilegal adalah dengan melihat fokus bisnisnya.

Fokus bisnis

Biasanya sih perusahaan MLM ilegal akan lebih berfokus pada perekrutan orang. Komisi yang kamu dapatkan dari perekrutan akan lebih besar dari komisi penjualan produk.

Sebaliknya, perusahaan yang legal biasanya memberikan komisi kecil atau bahkan tidak memberikan komisi sama sekali ketika kamu berhasil merekrut orang. Karena fokusnya pada penjualan produk atau retail.

Memang sih membangun downline itu penting, tapi bukan karena komisinya, namun karena dengan adanya downline yang banyak, otomatis kita membangun sistem pendistribusian produk yang semakin luas.

Dengan jaringan distribusi yang luas, maka otomatis penjualan produk juga akan meningkat.

Sampai sini sudah ngeh belum? Okay lanjuuuut…

Posisi atau level dalam perusahaan

Biasanya dalam skema piramida ilegal orang yang lebih dahulu bergabung yang akan mendapatkan keuntungan paling besar.

Posisinya tetap, dan tidak dapat digantikan atau dibalap oleh downline di bawah-nya.

Inilah yang disebut dengan ongkang-ongkang kaki, uang mengalir sendiri.

Karena tanpa melakukan apapun, uang akan terus mengalir. Lha kok bisa?

Ya bisa saja, kan uang mengalirnya dari komisi perekrutan orang-orang dibawahnya, dan bukan dari penjualan produk.

Beda banget dengan MLM legal dimana fokusnya adalah pada penjualan produk. Ketika kamu ngga kerja membangun jaringan distribusi produk, maka otomatis ngga akan ada penghasilan.

Namun ketika kamu berhasil membangun jaringan distribusi yang luas, maka bisa jadi uplinemu bakal ketinggalan jauh di belakangmu.

Produk dan harganya

Dari segi produk juga dapat dilihat apakah harga yang diberikan terlalu mahal untuk kualitas barang seperti itu.

Saya sih selalu menghindari perusahaan MLM yang memiliki produk dengan harga yang ngga wajar.

Selain kamu bakal kesulitan menjual produknya, perusahaan seperti ini bisa jadi memanfaatkan harga tinggi dari produknya sebagai komisi perekrutan.

Nah biasanya nih perusahaan seperti ini memberikan syarat join, yaitu harus membeli satu paket produk dengan harga tinggi, yang ngga sebanding dengan kualitasnya.

Komisi dari penjualan ini nanti akan masuk ke kantong kamu.

Well, kalo begitu, apa bedanya dengan komisi perekrutan?! Jadi harus cek ricek dulu sebelum memutuskan untuk join.

Skema piramida di bisnis lain

Ngga hanya MLM sih yang punya skema piramida. Semua bisnis cenderung punya skema yang sama.

Kalau kamu masih bekerja di kantor.. Coba sekarang urutkan skema jabatan di kantor kamu, dimulai dari boss kamu, hingga ke staff yang paling bawah.

Boss yang memimpin seluruh perusahaan, artinya dia di posisi paling atas.

Kemudian dibagi lagi menjadi divisi-divisi yang dipimpin oleh kepala divisi.

Kemudian di masing-masing divisi biasanya ada team yang dikepalai oleh kepala team atau team leader.

Dan terakhir di dalam team tersebut biasanya ada beberapa anggota team.

Coba lihat skema dibawah ini.

Bentuknya piramida bukan?

Siapa yang paling kaya? Apakah anggota team? Apakah kepala team? Apakah kepala divisi? Apakah boss?

Sudah jelas orang yang menduduki posisi pertama yaitu boss.

Boss-lah yang punya gaji paling besar.

Sekarang pertanyaan saya, Apakah seorang member bisa menggantikan posisi boss, bila boss tersebut masih ada?

Jawabnya ya Bisa Iya, Bisa Tidak, perlu proses yang lama dan kemungkinannya bakal kecil jika si boss masih berada di posisi puncak.

Apalagi jika perusahaan tersebut adalah bisnis keluarga, sudah pasti ngga mungkin lagi untuk menggantikan posisi boss.

Oke, sekarang coba lihat skema di pabrik dibawah ini.

Bentuknya piramida bukan?

Ini bukan tentang siapa yang dapat duit lebih banyak lagi, tapi tentang jaringan distribusi produk.

Pabrik memerlukan jaringan untuk mendistribusikan produknya, oleh karena itu pabrik memerlukan distributor.

Distributor perlu membangun jaringannya juga, sehingga distributor memerlukan jaringan distribusi lain yaitu toko-toko.

Toko-toko kemudian memasarkan produknya langsung ke konsumen.

Barang yang paling banyak terjual milik siapa? Ya tentu pabrik.

Sekarang pertanyaannya sama, Bisa ngga konsumen/customer menjadi distributor? Jawabannya, Bisa banget, masalahnya tinggal punya modal atau tidak.

Bisa ngga customer menjadi boss pemilik pabrik? Jawabannya, Bisa saja. Kan tinggal bangun atau beli pabrik!? Tapi masalahnya, kamu punya modal tidak? Karena membuat pabrik ngga murah, dan jika gagal maka kerugianmu juga bakal sangat amat banyak.

Salahkah MLM?

Well, sekarang kamu sudah tahu bahwa hampir semua skema bisnis itu menggunakan skema piramida. Lalu apa yang salah dengan MLM?

Saya akan tanyakan kembali pertanyaan yang sama. Bisakah downline menjadi upline, atau menduduki top performer di perusahaan MLM tersebut?

Jawabannya, sangat bisa.

Dan apakah orang yang jauh berada diatasmu memiliki pendapatan paling besar? Ngga juga.

Mengapa? Karena ketika orang yang berada jauh di atasmu tidak bekerja keras untuk membangun jaringannya, maka pendapatannya-pun akan stagnan atau bahkan menurun, karena minim penjualan.

Malah bisa jadi kamu mengalahkannya suatu saat.

Itulah uniknya bisnis ini.

Perlukah modal yang besar untuk memulai bisnis ini? Sama sekali tidak. Namun untuk bisa sukses dan menduduki posisi top performer, diperlukan kerja keras.

Mengapa kebanyakan orang gagal?

Well, ada banyak alasan mengapa sebagian besar orang gagal, seperti kurangnya pengetahuan bisnis, atau kurangnya pengetahuan marketing.

Namun yang paling banyak terjadi adalah karena sebagian besar downline tidak mampu menduplikasi apa yang dilakukan upline-nya.

Ketika upline mampu melakukan presentasi bisnis, downline juga harus mampu melakukannya.

Ketika upline mampu berkenalan dan berinteraksi dengan orang baru, downline juga harus mampu melakukannya.

Ketika upline mampu melakukan follow up pada orang lain, maka downline juga harus mampu melakukannya.

Namun kebanyakan cara yang dilakukan upline adalah cara konvensional yang diajarkan di kebanyakan perusahaan MLM.

Contohnya untuk menawarkan peluang bisnis, kebanyakan dari kita diajarkan untuk mengumpulkan daftar nomor telepon teman dan keluarga kita, kemudian mulai menghubungi mereka satu persatu.

Apakah cara seperti diatas sudah ngga bisa berjalan lagi?

Bisa! Absolutely Bisa! Namun masalahnya ngga semua orang mau melakukannya.

Ada banyak orang yang memiliki karakter introvert, pendiam dan sangat ngga nyaman untuk melakukan cara diatas. Akibatnya mereka stuck!

Mereka ngga kemana-mana. Mereka ngga sanggup menduplikasi apa yang dilakukan upline mereka. Dan akhirnya bisnis MLM mereka-pun berhenti.

Oleh karena itu sekitar tahun 2014 muncul sebuah strategi yang tujuannya mengatasi kendala tersebut, yaitu strategi marketing MLM dengan memanfaatkan Internet.

Strategi inilah yang membuat saya dapat menjaring 709 prospek kurang dari 14 hari.

Strategi ini juga yang membuat saya mampu menjual 40 produk hanya dalam waktu 2 hari.

Well, saya juga berharap kamu mampu menduplikasi apa yang saya lakukan, sehingga bisnis MLM-mu juga akan berkembang.

Leave a Comment

Copy link
Powered by Social Snap